Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan Taubat Nasuha, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, pada hari Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya; cahaya (iman dan amal soleh) mereka, bergerak cepat di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka (semasa mereka berjalan); mereka berkata (ketika orang-orang munafik meraba-raba dalam gelap-gelita): Wahai Tuhan kami! Sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan limpahkanlah keampunan kepada kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (SURAH AT TAHRIIM - AYAT 8)

Saturday, 6 August 2011

"KEMATIAN"

IMAM GHAZOLI MENJELASKAN
BAHAWA YANG PALING DEKAT DENGAN KITA DI DUNIA INI ADALAH "MATI". DAN YANG PALING JAUH SEKALI DARI KITA IA LAH "MASA LALU" KERANA DENGAN APAPUN TIDAK AKAN DAPAT DI KEJAR KEMBALI
.

سورة طه55
“Dari bumilah Kami ciptakan kamu, dan ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan daripadanya pula Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi.” Surah Ta-ha ayat 55
“Setiap jiwa akan pasti merasakan kematian”. (surah Ali Imran : 185)
Seseorang tidak dapat lari dan menjauhi kematian. Hal ini secara tegas dikemukakan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya,
“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”.(Surah An-Nisa: 78)
Kematian merupakan sesuatu yang tidak perlu ditakuti, karena kematian itu merupakan jalan kembali kepada Tuhan yang menciptakan kita semua. Dahulu kita berada di sisi Allah kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini menjalani kehidupan sementara, kemudian kita mengakhirinya dengan kematian, yang sebenarnya kita kembali ke sisi Allah lagi. Dengan kata lain, kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa agar kembali kepada-Nya. Karena itu, kita sering mengatakan kepada orang yang meninggal dunia itu “berpulang ke rahmatullah” atau kita mengucapkan Innalillahi wainna ilaihi raji’un, yang artinya “sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali”.
TAPI
BAGAIMANA KEMATIAN ITU BERLAKU?
Adakah ia dalam keadaan yang baik atau sebaliknya?
Adakah kita mati dalam beribadah atau sibuk dengan urusan dunia?
Adakah kita mati dalam perjuangan atau kesia-siaan?
Adakah kita mati sebagai hamba allah atau hamba dunia dan manusia?
Adakah kita mati dengan penuh redha atau dalam keadaan putus asa?

Imam Al-Ghazali dalam buku bimbingan mu‘minin dalam bab mengingati mati ada menukil tsabit al-bunani berkata.Pada masa-masa yang lalu, tatkala kami menyaksikan jenazah, maka di situ ada sahaja orang-orang yang terharu dan menangis.Sebab yang demikian itu ialah kerana mereka amat takut akan kematian. Tetapi sekarang ini bila kami menyaksikan jenazah sekumpulan orang yang hadir di rumah-rumah yang ada kematian, kami kerap pula menyaksikan orang-orang itu bergelak ketawa, berbual kosong atau membicarakan tentang harta kekayaan si mati dan berapa ramai ahli waris yang ditinggalkannya. Para ahli waris juga turut memikirkan bagaimana mereka akan mendapat harta yang ditinggalkan oleh si mati itu. Tidak ada seorang pun yang mahu memikirkan tentang dirinya bila pula ia akan mati dan diletakkan di dalam keranda seperti si mati itu, lalu diusung menuju ke kubur.
Tidak ada sebab mengapa kita tidak dapat memikirkan semua ini melainkan jika hati kita telah menjadi keras seperti batu disebabkan oleh terlalu banyak maksiat dan dosa yang dilakukan, sehingga kita terlupa kepada Allah Taala dan janji-janji Allah mengenai apa yang berlaku di hari akhirat dan segala kesulitan yang bakal kita hadapi pada hari itu.
Oleh itu, kita pun hanya memikirkan kesenangan-kesenangan yang ada di hadapan mata sahaja, sehingga kita sekalian dilalaikan daripada mengingati segala yang menunggu di hari hadapan dan kita pun lupa diri sendiri disebabkan oleh perkara-perkara yang mempesonakan.

Dua perkara yang harus sentiasa kekal dalam fikiran kita dalam mengingati mati.
1. Apakah yang akan kita bawa sebagai bekal (pahala / dosa) ke akhirat?
2. Apakah yang akan aku tinggalkan di dunia ini (anak soleh, amal jariah, ilmu, nama baik atau amal-amal yang menyebabkan manusia sentiasa mengingati kita dengan penuh kebencian)?